Blogger Situbondo

Admin Blogernya asli Situbondo

Senin, 21 Juli 2014

0 Encouragement


Oleh : Prof. Rhenal Kasali, Ph.D

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak -anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun raportnya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti." Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa lelah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan "gurunya salah." Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oeh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas....;Kalau.....;Nanti; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekoah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua ini sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang dapat dari orang-orang disekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau Bodoh.

Tapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan muailah mendorong kemajuan, bukan meneburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan Menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Selasa, 06 Mei 2014

0 Lokasi yang Sebaiknya Kamu Hindari Saat Kencan Pertama




Kencan pertama bisa menjadi awal dan akhir dari sebuah pertemuan. Kesan kencan pertama yang buruk bisa menjadi akhir dari hubungan dengan orang tersebut. Lokasi kencan juga mempengaruhi hubungan ke depannya. Ada enam lokasi yang sebaiknya dihindari saat akan kencan pertama. Berikut uraiannya.

1. Restoran 'All You Can Eat'

Hindari mengatur kencan pertama di restoran makanan dengan konsep 'all you can eat.' Biasanya restoran dengan konsep ini selalu ramai pengunjung baik orang dewasa maupun anak-anak. Ini bisa mengganggu kencan romantis kamu. Sebaiknya pilih restoran yang cukup tenang agar kamu dan si dia bisa saling mendekatkan diri.

2. Pernikahan Keluarga
Pernikahan keluarga juga bukan lokasi yang baik untuk mengatur kencan pertama. Mungkin kamu ingin langsung mengenalkan dia sebagai seseorang yang sedang dekat tapi bukan pada kencan pertama. Upacara pernikahan berlangsung cukup lama, kalau suasana canggung tentu merusak acara kamu dan si dia. Sulit untuk mencari waktu berdua saat di tengah pernikahan keluarga karena salah satu sibuk menjadi penyelenggara.

3. Berkemah

Jangan langsung memikirkan piknik bersama ketika belum pernah bertemu sebelumnya. Kencan pertama sebaiknya tidak dilakukan di perkemahan baik cuma berdua maupun dengan teman-teman. Pikirkan kembali, bagaimana kalau si dia tidak bisa membaur dengan teman-teman tentu merusak acara kemping kamu. Selain itu, kamu juga tidak tahu sebenarnya dia suka pergi berkemah atau cuma terpaksa demi menemui kamu.

4. Ice Skating
Sebagian orang suka bermain ice skating tapi tidak semua pria bisa melakukannya. Mungkin dalam film, bermain ice skating dengan orang disuka bisa menjadi momen romantis tapi tidak saat kencan pertama. Kalau kamu tiba-tiba mengajaknya pergi untuk bermain ice skating tapi ternyata dia tidak bisa tentu membuatnya merasa kurang nyaman.

5. Restoran Ayam Goreng Cepat Saji
Restoran ayam goreng cepat saji juga tidak tepat untuk bertemu saat baru kencan pertama. Mengapa? Seperti restoran dengan konsep 'all you can eat', biasanya restoran ayam goreng cepat saji selalu ramai pengunjung. Suasana di restoran tersebut juga bisa bikin si dia tidak nyaman. Hindari lokasi ini untuk mengatur kencan pertama.

6. Museum
Museum bisa menjadi lokasi kencan yang unik tapi tidak saat baru pertama kali pergi berdua dengan si dia. Mungkin kamu suka sejarah atau merasa lokasi museum yang sepi bisa bikin kamu lebih dekat. Namun beberapa pria akan merasa bosan dan lelah mengelilingi museum.


0 Mikroskop Sinar-X Setajam Mata Superman

Menciptakan peralatan untuk membantu manusia melihat setajam Superman bukan lagi mimpi. Ashish Tripathi, mahasiswa pascasarjana University of California di San Diego, AS, menciptakan mikroskop sinar-X dengan kemampuan melihat sangat tajam, hingga ketelitian sepersatu miliar meter.

Mikroskop ini tidak membutuhkan lensa. Untuk mencitrakan suatu obyek, mikroskop menggunakan program komputer yang bisa mengubah pola pantulan sinar-X menjadi gambar obyek yang mudah diinterpretasikan, menyajikan citra dalam skala atom. Oleg Shpyrko, fisikawan yang menjadi pembimbing penelitian, mengatakan, mikroskop berperan dalam nanoteknologi. "Kita bisa membuat sesuatu dalam skala nano, tapi kita tidak bisa melihat dengan baik. Mikroskop memungkinkan karakterisasi materi nano," kata Shpyrko.

Kemampuan mikroskop ini telah diuji. Peneliti membuat film berbahan besi dan gadolinium. Dengan mikroskop, mereka berhasil melihat gabungan kedua elemen itu berhasil sebagai pola medan magnet yang berkelok-kelok, menyerupai sidik jari.

Shpyrko mengatakan, mikroskop ini bisa dipakai untuk melihat bagaimana materi satu dan lainnya bergabung sehingga bisa mengupayakan efisiensi produksi materi skala nano. Aplikasi lain ialah melihat karakter magnetis dari materi untuk mengupayakan penyimpanan data magnetis yang lebih baik.

Mikroskop ini juga bisa memecahkan beberapa misteri. Misalnya, kemampuan baterai selalu menurun karena degenerasi interface antara elektroda dan elektrolit, tetapi tak ada yang tahu pasti mengenai prosesnya. Dengan mikroskop ini, sebab dan solusi dalam mengatasi hal itu bisa diamati.
"Dengan mikroskop ini, kita bisa melihat pada interface yang paling sulit," kata Shpyrko. Hasil penelitian ini dimuat dalam Proceedings of the National Academy of Sciences edisi teranyar.

0 Motor Listrik Terkecil di Dunia

Ilmuwan berhasil menciptakan motor listrik terkecil di dunia. Motor listrik ini dibuat dari satu molekul berukuran sepersejuta meter. Hasil kerja ilmuwan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Nanotechnology, Senin (4/9/2011). Motor listrik terkecil ini nantinya bisa berperan dalam dunia medis maupun nanoteknologi.

Motor listrik dari satu molekul pernah dibuat sebelumnya, namun motor listrik kali ini ialah pertama yang bisa digerakkan listrik. "Orang telah membuat motor yang bisa digerakkan cahaya dan reaksi kimia. Tapi, di sana, anda menggerakkan jutaan pada saat yang sama," kata Charles Sykes, pakar kimia dari Tufts University di Massachusets."Yang mengejutkan dari motor listrik adalah, kita bisa melihat pergerakan dari satu motor molekul, melihat bagaima perilaku dari motor kecil tersebut," tambah Sykes seperti dikutip BBC

Sykes bisa mengontrol motor nano dengan listrik lewat bantuan low temperature scanning tunneling microscope (LT-STM). Alat tersebut menggunakan elektron untuk melihat molekul. Sykes menggunakan tip pada mikroskop untuk mensuplai listrik pada molekul butil metil sulfida yang telah diletakkan di permukaan tembaga yang konduktif. Akibat suplai listrik, motor nano pun berputar.

LT-STM juga bisa dipakai untuk melihat motor berputar. Motor diketahui bisa berputar dua arah serta bergerak dengan kecepatan 120 revolusi per detik. Kemampuan gerak motor ini bisa dimodifikasi. Lewat proses modifikasi misalnya, ilmuwan bisa menciptakan radiasi gelombang mikro arau menciptakan sistem nano-elektromekanik.

Motor listrik juga bisa berguna dalam dunia medis, untuk memastikan penghantaran obat tepat sasaran. Untuk menuju ke sana masih butuh beberapa langkah. Saat ini peneliti baru akan mendaftarkannya dulu ke Guiness Book of Record sebagai motor elektrik terkecil di dunia.

0 Sinar Laser dapat Menimbulkan Hujan







Laser ternyata berpotensi digunakan untuk menciptakan hujan. Hal ini diungkapkan oleh Jerome Kasparian, fisikawan dari University of Geneva. Dengan hasil penelitian ini, daerah kering bisa berharap hujan lebih dan ilmuwan pun mendapat teknik baru membuat hujan yang lebih efektif dari teknik modifikasi iklim.

Dalam penelitiannya, Kasparian menggunakan laser untuk mengontrol kelembaban. Ilmuwan menemukan bahwa laser bisa memicu tumbuhnya tetesan air hujan pada kelembaban lebih rendah, sekitar 70 persen. "Pada kelembaban tersebut, kondensasi tidak terjadi dalam kodisi natural, di mana dibutuhkan kelembaban 100 persen," kata Kasparian.
Rahasia kerja laser adalah pada kemampuan sinarnya membentuk senyawa asam nitrat di udara. Asam nitrat bisa menjadi "biji" awan, memilih untuk berasosiasi dengan air, bertindak seperti lem sehingga membentuk kumpulan air dalam kondisi yang relatif kering, di mana air mengalami evaporasi.

Untuk bisa diaplikasikan sebagai pencipta hujan, masih perlu beberapa pengembangan. Kasparian mengakui bahwa laser memang bisa menumbuhkan partikel berair. "Namun, saat ini ukurannya terbatas, hanya beberapa mikron. Butuh 10 sampai 100 kali lebih besar untuk memproduksi hujan yang sebenarnya," kata Kasparian.

Asalkan syarat tersebut bisa dipenuhi, penciptaan hujan dengan laser tak akan terlampau sulit. Tak perlu juga sistem laser udara. “Tipe laser yang digunakan selama ini bisa mencapai jarak kerja beberapa kilometer, jadi atmosfer bisa diaktifkan dengan ground based laser," Menurut Kasparian, kombinasi antara teknik laser dan teknik 

modifikasi cuaca seperti dengan perak iodidan dan dru ice tidak diperlukan. Langkah itu, menurutnya, justru akan kontraproduktif. Partikel akan berkompetisi untuk terkondensasi dan hasilnya tetesan air terlalu kecil, tak cukup untuk menjadi tetesan hujan.

Satu masalah terkait kontrol cuaca seperti dengan laser adalah, akankah penciptaan kelembaban di satu tempat akan mencuri kelembaban di tempat lain. Menanggapi hal ini, Kasparian mengatakan, "Laser hanya memungkinkan kondensasi bagian kecil dari kelembaban di udara." Jadi, risikonya tak terlampau serius. Penemuan Kasparian ini dipublikasikan di Nature Communication, 30 Agustus 2011.